Perjalanan Hidup
“Kamu juga manusia,,,,
sama seperti mereka…Jika mereka bisa, kenapa kamu tidak…???.”
Kata-kata itu terus
terngiang di telingaku , Aku yang terlahir dari keluarga miskin. Meskipun aku
dari keluarga miskin, namun semangatku tak semiskin keadaan ekonomiku.
Kepercayaan diri, kerja keras dan keinginan yang kuat adalah kekayaan Ku,
satu-satunya modal yang aku miliki dalam perjalanan hidupku menggapai
kesuksesan. Hanya itu yang dapat aku andalkan dalam merubah nasib diri dan
keluargaku. Ketidakpastian perjalanan hidup adalah kepastianku dalam menatap
masa depan, peluang merubah keadaan.
“Tuhan tidak memberiku
kepastian sebagai orang kecil yang terkucilkan,,,, dan masih terbuka peluang
yang sangat besar untuk merubah keadaan… Sebesar kemauan yang ada”.
Aku selalu bergumam
dalam kesendirian, dan itulah rahasia diriku dalam menjaga semangatku yang bak
cadas, tak pernah surut melawan arus. Tak ada lagi ujian kecuali sebagai
peringatan Tuhan. Tak ada lagi kegagalan kecuali sebagai cambuk dalam merubah
keadaan. Jika hidup ini adalah jalan terjal, tak mungkin Tuhan menciptakan
manusia tanpa sanggup melewatinya. Dan semuanya tergantung pada masing-masing
dalam berproses. Berawal dari kelahiran tanpa warisan, kecuali tarikan nafas
yang bisa saja panjang atau kematian. Dan manusia menciptakan takdirnya sendiri
setelah Tuhan.
“Dunia terbangun di
atas kebahagiaan, tak ada lagi kekecewaan dan kesedihan saat manusia merubah
cara pandang. Bukankah kebahagiaan, kesedihan, keindahan tidak melekat pada objeknya.
Ketika orang bertanya “Tetapi bagaimana seseorang memandang dan merasakan…???”.
Jawabku ketika ditanya tentang hidupnya yang penuh kesulitan.
Saat dilema setelah
aku lulus SMK , berharap melanjutkan pendidikan untuk masuk perguruan tinggi
negeri, tapi dengan keadaan ekonomi orang tuaku yang sulit, aku tidak bisa
memaksa keadaan orangtuaku untuk harus menguliahkanku,,,patah semangat seakan
Tuhan telah mencabut masadepanku. Sampai akhirnya sang tante datang,
mengembalikan impianku yang berantakan. Bukan uang atau barang-barang berharga
yang diberikan, tapi sesuatu yang tak dapat diperjual belikan, yaitu Kesadaran,
Tanteku mengajak aku untuk merantau keJakarta, dengan bermodalkan Ijazah SMK,
semangat dan tekat yang bulat yang tak kan pernah habis ditelan masa, tak
pernah hancur sepanjang umur. Aku berangkat dan pamit dengan orangtuaku untuk
merantau kejakarta, Sesampainya dibandara Jakarta, aku menghirup udara yang
sangat berbeda dari kampong halamanku, terlintas dibenakku, “Apakah aku bisa
sukses dijakarta ini dan bisa membahagiakan kedua orangtuaku,?”
“Jika kau gantungkan
hidupmu pada orangtua, maka pada waktunya dia akan mengalami kematian dan apa
yang harus kau lakukan untuk meraih masadepanmu..??? Kau tercipta lengkap
dengan rezeki dan nasibmu sendiri, bukan karena mereka atau untuk mereka kau
hidup. Tetap tegar dan sabar, kau tidak sendiri dan semuanya butuh proses
sebagaimana kau terlahir dan hidup sampai saat ini”. Bukan kuliah yang
menjanjikan kesuksesan, tapi semangat yang lebih menjanjikan. Aku ingin
membuktikan semua itu, berangkat dari perjalanan sejarah dalam menggapai senyum
yang sebelumnya hilang. Aku ingin membahagiakan semua orang. Aku tak ingin
mengecewakan mereka yang memberiku kepercayaan untuk hidup semangat kembali.
Sudah saatnya aku
hidup dengan tanganku sendiri, begitu mengganggu,,,Pikiranku mulai menjalar,
menalar mencari jalan keluar dalam mencapai impian tanpa mengembalikan diri
pada nasib dan keluarga. Sekedar tamat SMK seakan tak memberikanku apa-apa, aku
ingin kuliah demi memburu cita-cita yang aku bangun sebelumnya. Di
tengah-tengah kemiskinan dan krisis dukungan ke depan, aku terbangun dengan
tekat bulat dan nekat dalam perhitungan. Terinspirasi kata-kata seorang khas
di kampungku, “Takkan pernah menemukan keajaiban, kecuali mereka yang nekat”.
“Merantau,,,,,ya
merantau…Cari kerja, terlepas dari tanggungan orang tua dan kuliah”. Terlintas
pikirku suatu malam. Namun, tradisi atau kebiasaan orang desa tidaklah
mendukung. Banyak rintangan yang harus dihadapi sebelum berangkat ke
perantauan. Aku tak ingin meninggalkan kesan-kesan jelek dan tidak enak
didengar di masyarakat desaku. Orang-orang desa yang suka gosip dan gampang
termakan olehku dapat saja melahirkan masalah.
Beberapa bulan
kemudian, niat aku untuk mencari kerja dijakarta dengan semangat dan kemauan
keras. Mengagantungkan harapanku diIbukota , berharap besar akan perubahan
dalam hidupku. Dalam keyakinanku, Tuhan akan selalu bersamaku dimanapun aku
berada. Tak ada lagi kata sendiri dan sepi, atau ketakutan yang membebani.
Pengalaman,,, ya
pengalaman…. Aku banyak belajar dari kehidupan sulit yang aku jalani. Kalau
dulunya di sekolah aku banyak belajar dengan buku-buku dan konsep, sekarang aku
terjun dalam menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Bukan mereka, dia atau
siapa-siapa yang bercerita, tetapi diriKu sendiri dalam realita.
Keras,,,, keras……
Begitu keras kehidupan diIbukota, tak kenal lelah dan menyerah. Kecuali sudah
tak sanggup lagi melangkah. Kesengsaraan bukanlah sesuatu yang harus dihindari,
tetapi bagaimana seseorang menyikapi dan mensyukuri, dengan mengambil pelajaran
dari diri sendiri. Itulah cara Tuhan mempersiapkan hamba-Nya sebelum meraih
kesuksesan, agar dia tak lupa dan terbuai dalam kelalaian. Aku selalu ingat
kata orangtuaku, “Jika kau ingin sukses, maka hargailah proses….!!!”.
Kerja,,, kerja dan
kerja… Sisihkan uang untuk kuliah. Dari kerja yang berat-berat sampai di bawah
ruang ber-AC, semua Aku lalui dengan senang hati. Demi mewujudkan impianku,
sementara Aku sisihkan dulu Soal pacaran.!!! Yang terpenting apa yang Aku
impikan menjadi kenyataan. Tidak seperti pemuda lain yang mendahulukan pacaran.
Dua tahun sudah
terlewati aku diIbukota, Aku dengan semangat dan kerja kerasku dapat mewujudkan
impianku sedikit demi sedikit untuk membantu kedua orangtuaku dengan hasil
jerih payahku sendiri meskipun tak seberapa. Aku sangat bahagia. Berangkat dari
keadaan yang serba pas-pasan, Aku sanggup mewujudkan impian untuk bisa meraih
sukses. Aku sanggup membuktikan pada semuanya bahwa harta bukanlah jaminan akan
kesuksesan, tapi semangat dan kerja keras tanpa mengenal putus asalah yang
lebih berperan. kemauan, kesungguhan dan impian itulah awal dari segalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar