Jumat, 28 Maret 2014
Senin, 24 Maret 2014
Disaat Kecewa
Tuhan , Ketika aku kecewa.. Aku memilih untuk memendamnya sendiri.
Ketika semua itu tidak bisa aku bendung lagi..Aku memilih untuk nangis.
Aku belajar untuk tidak memaksa kehendak walawpun aku kecewa.
Aku belajar untuk terus berharap, bersabar, dan mengerti disaat dikecewakan.
Dan aku percaya akan datang hari dimana aku akan tersenyum kembali.
Terkadang aku sering mengeluh, tapi aku tidak pernah menuntut hal yang berlebih.
Aku sadar, aku bukanlah orang yang sempurna..
Tuhan tolong tenangkan hati dan pikiran ini serta dewasakan hati ini. Amin
Minggu, 16 Maret 2014
Perjalanan Hidup
“Kamu juga manusia,,,, sama seperti mereka…Jika mereka bisa, kenapa kamu tidak…???.”
Kata-kata itu terus terngiang di telingaku , Aku yang terlahir dari keluarga miskin. Meskipun aku dari keluarga miskin, namun semangatku tak semiskin keadaan ekonomiku. Kepercayaan diri, kerja keras dan keinginan yang kuat adalah kekayaan Ku, satu-satunya modal yang aku miliki dalam perjalanan hidupku menggapai kesuksesan. Hanya itu yang dapat aku andalkan dalam merubah nasib diri dan keluargaku. Ketidakpastian perjalanan hidup adalah kepastianku dalam menatap masa depan, peluang merubah keadaan.
“Tuhan tidak memberiku kepastian sebagai orang kecil yang terkucilkan,,,, dan masih terbuka peluang yang sangat besar untuk merubah keadaan… Sebesar kemauan yang ada”.
Aku selalu bergumam dalam kesendirian, dan itulah rahasia diriku dalam menjaga semangatku yang bak cadas, tak pernah surut melawan arus. Tak ada lagi ujian kecuali sebagai peringatan Tuhan. Tak ada lagi kegagalan kecuali sebagai cambuk dalam merubah keadaan. Jika hidup ini adalah jalan terjal, tak mungkin Tuhan menciptakan manusia tanpa sanggup melewatinya. Dan semuanya tergantung pada masing-masing dalam berproses. Berawal dari kelahiran tanpa warisan, kecuali tarikan nafas yang bisa saja panjang atau kematian. Dan manusia menciptakan takdirnya sendiri setelah Tuhan.
“Dunia terbangun di atas kebahagiaan, tak ada lagi kekecewaan dan kesedihan saat manusia merubah cara pandang. Bukankah kebahagiaan, kesedihan, keindahan tidak melekat pada objeknya. Ketika orang bertanya “Tetapi bagaimana seseorang memandang dan merasakan…???”. Jawabku ketika ditanya tentang hidupnya yang penuh kesulitan.
Saat dilema setelah aku lulus SMK , berharap melanjutkan pendidikan untuk masuk perguruan tinggi negeri, tapi dengan keadaan ekonomi orang tuaku yang sulit, aku tidak bisa memaksa keadaan orangtuaku untuk harus menguliahkanku,,,patah semangat seakan Tuhan telah mencabut masadepanku. Sampai akhirnya sang tante datang, mengembalikan impianku yang berantakan. Bukan uang atau barang-barang berharga yang diberikan, tapi sesuatu yang tak dapat diperjual belikan, yaitu Kesadaran, Tanteku mengajak aku untuk merantau keJakarta, dengan bermodalkan Ijazah SMK, semangat dan tekat yang bulat yang tak kan pernah habis ditelan masa, tak pernah hancur sepanjang umur. Aku berangkat dan pamit dengan orangtuaku untuk merantau kejakarta, Sesampainya dibandara Jakarta, aku menghirup udara yang sangat berbeda dari kampong halamanku, terlintas dibenakku, “Apakah aku bisa sukses dijakarta ini dan bisa membahagiakan kedua orangtuaku,?”
“Jika kau gantungkan hidupmu pada orangtua, maka pada waktunya dia akan mengalami kematian dan apa yang harus kau lakukan untuk meraih masadepanmu..??? Kau tercipta lengkap dengan rezeki dan nasibmu sendiri, bukan karena mereka atau untuk mereka kau hidup. Tetap tegar dan sabar, kau tidak sendiri dan semuanya butuh proses sebagaimana kau terlahir dan hidup sampai saat ini”. Bukan kuliah yang menjanjikan kesuksesan, tapi semangat yang lebih menjanjikan. Aku ingin membuktikan semua itu, berangkat dari perjalanan sejarah dalam menggapai senyum yang sebelumnya hilang. Aku ingin membahagiakan semua orang. Aku tak ingin mengecewakan mereka yang memberiku kepercayaan untuk hidup semangat kembali.
Sudah saatnya aku hidup dengan tanganku sendiri, begitu mengganggu,,,Pikiranku mulai menjalar, menalar mencari jalan keluar dalam mencapai impian tanpa mengembalikan diri pada nasib dan keluarga. Sekedar tamat SMK seakan tak memberikanku apa-apa, aku ingin kuliah demi memburu cita-cita yang aku bangun sebelumnya. Di tengah-tengah kemiskinan dan krisis dukungan ke depan, aku terbangun dengan tekat bulat dan nekat dalam perhitungan. Terinspirasi kata-kata seorang khas di kampungku, “Takkan pernah menemukan keajaiban, kecuali mereka yang nekat”.
“Merantau,,,,,ya merantau…Cari kerja, terlepas dari tanggungan orang tua dan kuliah”. Terlintas pikirku suatu malam. Namun, tradisi atau kebiasaan orang desa tidaklah mendukung. Banyak rintangan yang harus dihadapi sebelum berangkat ke perantauan. Aku tak ingin meninggalkan kesan-kesan jelek dan tidak enak didengar di masyarakat desaku. Orang-orang desa yang suka gosip dan gampang termakan olehku dapat saja melahirkan masalah.
Beberapa bulan kemudian, niat aku untuk mencari kerja dijakarta dengan semangat dan kemauan keras. Mengagantungkan harapanku diIbukota , berharap besar akan perubahan dalam hidupku. Dalam keyakinanku, Tuhan akan selalu bersamaku dimanapun aku berada. Tak ada lagi kata sendiri dan sepi, atau ketakutan yang membebani.
Pengalaman,,, ya pengalaman…. Aku banyak belajar dari kehidupan sulit yang aku jalani. Kalau dulunya di sekolah aku banyak belajar dengan buku-buku dan konsep, sekarang aku terjun dalam menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Bukan mereka, dia atau siapa-siapa yang bercerita, tetapi diriKu sendiri dalam realita.
Keras,,,, keras…… Begitu keras kehidupan diIbukota, tak kenal lelah dan menyerah. Kecuali sudah tak sanggup lagi melangkah. Kesengsaraan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi bagaimana seseorang menyikapi dan mensyukuri, dengan mengambil pelajaran dari diri sendiri. Itulah cara Tuhan mempersiapkan hamba-Nya sebelum meraih kesuksesan, agar dia tak lupa dan terbuai dalam kelalaian. Aku selalu ingat kata orangtuaku, “Jika kau ingin sukses, maka hargailah proses….!!!”.
Kerja,,, kerja dan kerja… Sisihkan uang untuk kuliah. Dari kerja yang berat-berat sampai di bawah ruang ber-AC, semua Aku lalui dengan senang hati. Demi mewujudkan impianku, sementara Aku sisihkan dulu Soal pacaran.!!! Yang terpenting apa yang Aku impikan menjadi kenyataan. Tidak seperti pemuda lain yang mendahulukan pacaran.
Dua tahun sudah terlewati aku diIbukota, Aku dengan semangat dan kerja kerasku dapat mewujudkan impianku sedikit demi sedikit untuk membantu kedua orangtuaku dengan hasil jerih payahku sendiri meskipun tak seberapa. Aku sangat bahagia. Berangkat dari keadaan yang serba pas-pasan, Aku sanggup mewujudkan impian untuk bisa meraih sukses. Aku sanggup membuktikan pada semuanya bahwa harta bukanlah jaminan akan kesuksesan, tapi semangat dan kerja keras tanpa mengenal putus asalah yang lebih berperan. kemauan, kesungguhan dan impian itulah awal dari segalanya.
Langganan:
Postingan (Atom)
